FRAGMEN SANG KETUA KELAS



FRAGMEN SANG KETUA KELAS

Sambil menggerutu, sang Primadona kelas III/13 disebuah Sekolah Lanjutan Pertama ini,mengikat tali sepatunya dengan secara paksa. “Uh, ini sepatu enggak bisa diajak kompromi lagi “, begitulah gerutu dalam hatinya. Ia tahu bahwa ia seharusnya sudah harus sampai di-HALTE BIS sedini mungkin. Karena bila sudah terlalu siang nanti agak sulit untuk mendapatkan kendaraan bis-nya.

Ketika telah sampai diHALTE BIS untuk kemudian duduk diatas bangku tunggu bis, tiada henti-hentinya ia menengok kekiri dan kekanan. Ia nampaknya sangat khawatir kalau-kalau akan terlambat datang kesekolah nanti. Sebab, kendaraan yang dinanti-nantikannya, belum kunjung datang jua. Lalu iapun melihat jam tanggannya yang mungil dan ternyata,” Ya ampun, udah jam 6.45 menit.”
Tetapi syukurlah, tidak berapa lama kemudian, datanglah SANG PENYELAMAT yang tiada lain dan tiada bukan adalah si-P 08 yaitu kendaraan yang berwarna orange jurusan SENEN – GAMBIR. Paham bukan???
Kemudian kendaraan itupun seakan sudah tahu kewajibannya untuk berhenti tepat didepan Sang Primadona. Tak lama kemudian dengan disertai hentakan ” tarrriiikkkk”, maka kendaraan itupun telah membawa Sang Primadona.

Siapakah Sang Primadona alam kisah cerita ini…???Tak lain adalah seorang gadis manis berambut hitam setinggi bahu, berkacamata bulat ala mendiang JOHN LENNON dari Grup Band THE BEATLES dan sedikit mancung kedepan pada hidungnya yang mungil itu.
LESTARI DEWI YULIANI, begitulah nama lengkapnya, hanya sering dipanggil sebagai Tari.
Ia adalah seorang gadis yang mempunyai sifat periang, centil tetapi kadang-kadang cengeng dan penghibur teman dikala ada teman yang mendapat kesedihan serta tergolong sebagai anak yang pandai disekolah dan tak lupa, iapun termasuk anak yang ramah tamah. Karenanya tak perlu heran apabila ia mempunyai segudang teman dan sangat disegani baik oleh kawan maupun lawan serta oleh para guru pengajar sekalipun. Begitulah sekilas perkenalan kita pada Sang Primadona dalam kisah cerita ini.

Sejak Tari melangkahkan kakinya kedalam BIS METRO MINI, tak sedikitpun nampak ceria dan gembira pada raut wajahnya yang oval. Apalagi untuk dapat tersenyum pada bibirnya yang tipis manis itu.
Tampaknya Tari sangat gelisah sekali, karena dapat dilihat dari kerutan dahinya yang tak henti-hentinya, sebentar melihat keluar jendala, sebentar kemudian ia menggigit-gigitkan kuku jarinya, lalu melamun yang terkadang bersandar dikala kendaraan tersebut sedang menggeremnya secara mendadak. Huuhhh…ini kendaraan, bikin orang tambah ruwet saja” pikirnya dalam hati.

Ketika kendaraannya melewati sebuah sekolah yang cukup strategis dikawasan Lapangan Banteng, serta merta Tari berteriak ” Stop…stop..stop kiri bang”, celotenya. Maka kendaraan itupun merapat kearah trotoar jalan dengan secara mendadak.
Dengan tergesa-gesa, maka Taripun menuruni anak tangga dari kendaraannya untuk kemudian disusul pula oleh aba-aba dari Sang Kondektur yang sedikit agak kesal, ” Tarrrriiikkk…”.

Dengan langkah-langkah yang lebih dipercepat, Tari berjalan untuk memasuki Pintu Gerbang Sekolah serta segera menuju ke-kelas-nya.
Ketika berada dimuka kelas, Tari sedikit tertegun dan takut, karena ternyata pelajaran telah dimulai selang beberapa menit yang lalu. Kemudian ia mengetuk pintu kelas yang memang sudah agak sedikit rusak itu dengan perlahan-lahan. “Tok, tok, tok “, bunyi ketukan dari luar. Pelajaran Matematikapun terhenti sejenak dan Pak Dartopun menyapa dari dalam kelas untuk mempersilahkan masuk.
“Selamat pagi Pak “, kata Tari sambil membuka pintu kelas.
“Selamat pagi, balas Pak Darto sambil menganggukkan kepalanya.
“Kenapa kamu terlambat pagi ini Tari, tidak seperti biasanya..???tanya Pak Darto tegas.
“Maaf pak, saya memang bersalah, habis kendaraannya agak terlambat pak !” jawab Tari perlahan.
“Ya sudah, duduk sana dan ingat, jangan banyak mengobrol dan perhatikan pelajaran ini dengan baik yah…!!!”, pinta Pak Darto.
“Baik Pak “, jawab Tari sambil berjalan menuju ketempat duduknya dengan langkah yang agak malas.
Sambil menghampiri tempat duduknya, sempat pula ia menatap wajah Sang Ketua Kelas yang berada dua bangku dibelakangnya. Tatapan matanya kali ini lain dari seperti biasanya, karena terlihat dari tingkah lakunya, lalu dengan cepat ia menundukkan wajahnya dan cepat-cepat ia menyandarkan tubuhnya dibangkunya.

Pelajaran kini berjalan kembali seperti sedia kala, semua murid nampak sedang menegakkan kepalanya dan memperhatikan kepapan tulis dengan penuh konsentrasi.
Tetapi hanya Tari yang nampak sedang menundukkan kepalanya dan menempelkannya pada kedua belah tangannya diatas meja, sehingga semua teman-temannya merasa aneh atas tingkah lakunya. Merekapun bertanya-tanya didalam hatinya sendiri ” Kok tumben sih, Tari jadi pemurung akhir-akhir ini, enggak seperti biasanya…???”. Dan pada saat itu tanpa terasa terdengar sayup-sayup dari luar suara nyanyian ‘TENTANG KITA’ dari Grup Band KLA PROJECT yang sedang melejit namanya. Untaian pada bait-bait lagu tersebut seakan-akan mengajak Tari untuk melayangkan kembali pikirannya pada saat-saat dimana Pemilihan Ketua Kelas sedang berlangsung.
Ingatannya sangat tajam sekali, tatkala sewaktu guru Wali Kelas berkata ” Nah, kali ini yang ibu percayakan sebagai pemimpin kelas ini yaitu teman dari kalian juga yang bernama WAHYU“, yang diiringi pula oleh tepuk tangan dan sambutan-sambutan dari teman-teman semuanya. “Hidup Wahyu”, hidup Wahyu!!!” begitulah kenangan yang tak dapat dilupakan oleh Tari sampai saat ini, disaat-saat ia sedang melamun. Tanpa terasa, air matanya mulai menetes. Kemudian Tari tersentak ketika terdengar teguran dari teman dibelakangnya, yang bernama DENI.
“Ehhh…!!! Ayam Pak Pak RT mati lo, gara-gara banyak bengong plus nggak dikasih makan”, ledek DENI.” Dari tadi kok kelihatannya sedih terus sih, kayaknya lagi ada problem yeh…???” desak DENI. Tari hanya membisu saja. Tak lama kemudian Taripun mulai berbicara dengan nada sedikit memelas,” Den, mau nggak nolongin Tari. Tapi nanti sesudah ada bel istirahat, Tari ceritain semuanya didalam kelas ini dan jangan pergi kemana-mana dulu “.” Iya deh..” jawab Deni dengan duduk tenang kembali.

Selang beberapa menit kemudian terdengar suara lonceng berbunyi, pertanda waktu beristirahat tiba.Semua murid mulai mencari mangsa makanannya untuk menganjal perutnya. Tetapi lain dengan Tari, ia hanya merenung saja. Tak lama kemudian, Denipun menghampirinya. “Nah, sekarang coba ceritain mengenai problem Tari, sampai Tari seperti kayak orang frustasi begini,” pinta Deni tegas. ” Begini Den, Tari sedang bermusuhan dengan Sang Ketua Kelas“, jawab Tari sambil menunjukkan jari manisnya kearah bangku Wahyu yang tengah kosong.” Lho kok begitu aja dipikirin”, jawab Deni. “Nah sekarang yang jadi persoalannya apa?”, tanya Deni kembali.” Dia mengira kalo Tari menjelek-jelekin Wahyu, katanya ngejelekin Sang Ketua Kelas kita engga berwibawa, engga becus,padahal
kal menurut Tari, Tari engga pernah ngomong begitu”.” Nah karena masalah itu, sampai sekarang Tari engga pernah menegur Wahyu, apalagi ngobrol-ngobrol”, jawab Tari.
Pembicaraan antara Deni dengan Tari pun terputus ketika bel berdering kembali yang menandakan semua murid harus masuk kekelasnya kembali.
“Nah itu Wahyu. Kebenaran pelajaran kosong , ngga ada gurunya, kesempatan buat ngomong-ngomong sama dia”, pikir Deni dalam hati.
Lalu Denipun menghampiri bangku Wahyu sambil menawarkan permen karetnya, dan Deni berharap agar Wahyu tidak tersinggung. maka mulailah Deni membuka pertanyaannya,” Begini Yu, Deni dengar Wahyu sedang ada konflik sama Tari yah…???. Wahyu nampak tediam sejenak sambil menolak pemberian permen karet Deni dan ia menatap wajah Deni dengan sedikit acuh dan kesal. “Memangnya kenapa, sok mau tau urusan orang lain aja”, jawabnya ketus.” Bukannya begitu Yu, Deni cuma heran aja?’ tanya Deni kembali. “Lho, kok heran. Apanya yang heran hah”, balik Wahyu. Engga sih, habisnya dulu kamu bertiga sama Lia, kayaknya kompak, lengkap juga serempak. Tapi kok sekarang bisa pecah belah begitu sih, kayaknya persahabatan kamu bertiga pecah cuma lantaran persoalan sepele aja”, sambung Deni merendah.
Kemudian Wahyupun terdiam dan tertunduk untuk beberapa saat, yang mengakibatkan bel sekolahpun berdering kembali menandakan bel pergantian mata pelajaran, sehingga pembicaraanpun terhenti.

Akhirnya pelajaranpun kembali berjalan seperti biasanya setelah guru wali kelas yaitu Ibu Merry Sumeisy memerintahkan untuk membuka buku catatannya, agar mencatat dengan cara menndikte.
Setelah beberapa saat lamanya, selesai mencatat pelajaran GEOGRAFI, seperti biasanya Ibu Merry selalu memperhatikan dan memeriksa buku ABSENSI KELAS
Wahyu, coba kedepan ! Lihat, Buku Absensi ini sudah tiga hari tidak diisi oleh kamu ! Rupanya seperti ada yang tidak beres ini, yah…???tegur Ibu Wali Kelas dengan sedikit kesal.
“Maafkan saya bu, saya memang bersalah. Soalnya saya memang sedang sibuk, jadi saya kelupaan untuk mengisinya bu”, jawab Wahyu dengan jujur.
“Ya sudah, sekarang tolong dikerjakan dan diselesaikan !”, pinta Ibu Merry sambil beranjak untuk keluar dari kelas.
“Baik bu “, jawab Wahyu dengan segera untuk mengerjakaannya dan secara reflek kedua bola matanya melirik kearah tempat duduk Tari.
“Kali ini kamu menang Tari, karena saya terkena marah”, sesal Wahyu didalam hatinya.Begitu pula Tari membalas lirikan Wahyu dengan seribu tanda tanya.
“Kasihan Wahyu, dia terlalu repot mengurusi tugasnya. Apalagi mengingat ujian EBTANAS (Evaluasi Tahap Akhir Nasional; thn ’85) sudah diambang pintu begini”, kata Tari didalam hati dengan rasa iba.

Hari berganti minggu, minggupun berganti bulan, begitulah seterusnya, sehingga saat untuk Ujian PRAEBTA yaitu Ujian untuk memasuki EBTApun tiba.Kala itu, sedang berlangsung Ujian meta pelajaran Agama Islam, yaitu mempraktekkan cara berwudhu, sembahyang dan membaca Al-Qur’an.
Nampaknya seluruh murid mengikuti ujian tersebut dengan hati yang riang dan gembira. Tetapi tidak demikian halnya dengan raut wajah Wahyu yang tampak murung dan bersedih. Ternyata ia terlupa untuk membawa perlenkapannya yaitu KAIN SARUNG dan kitab suci AL-QUR’AN agar dapat
mengikuti tes ujian agama kali ini.
Tak terasa olehnya bahwa sedari tadi, Tari tengah memperhatikannya dan ia telah mengetahui akan kesulitan yang sedang dihadapi oleh Wahyu. Kemudian Tari mencoba untuk menghampirinya dan dengan sikap yang lembut serta ikhlas, menyodorkan KAIN SARUNG dan kitab AL-QUR’AN miliknya kepada Wahyu.
Yu, pakai aja ini supaya Wahyu bisa mengikuti tes agama ini dengan baik”, pinta Tari kepada Wahyu. Nampaknya Wahyu terperanjat dan tidak dapat menahan air matanya karena terharu, tetapi dengan termalu-malu akhirnya Wahyu mau menerimanya.
“Apa buat Tari sendiri sudah ada…?” tanya Wahyu ingin tahu
“Yah, memang Tari sengaja membawa dua dari rumah, karena khawatir nanti teman-teman yang lainnya ada yang tidak membawa. Tetapi ternyata, itu terjadi pada kamu”, jawab Tari dengan gaya bicar yang lebih dewasa.
“Ah…,ngga sangka, kamu memang TEMAN dan SAHABATKU yang baik seperti dulu Tari. Sekarang saya menyadari bahwa sayalah yang salah paham mungkin terlalu terbawa hanyut oleh perasaan sendiri serta gosip-gosip yang ngga benar. Maafin saya Tari dan sikap saya akhir-akhir ini. Dan ga lupa juga teima kasih banyak atas bantuannya ini”, kata Wahyu lebih dewasa sambil menyodorkan tangannya untuk meminta maaf.

Dua minggupun tak terasa sudah, setelah selesai PRAEBTA disambung pula dengan penyelenggaraan Ujian Akhir yaitu EBTANAS.Setelah semua jenis ujian selesai, tibalah waktunya untuk menunggu HASIL..???
Pagi-pagi sekali, seluruh murid telah hadir dan berkumpul dilapangan sekolah guna menunggu hasil ujian yang dijanjikan akan diumumkan seminggu setelah penyelenggaraan EBTANAS selesai.
Pembagian nilaipun kini telah selesai. Semua murid mendapatkan secarik kertas untuk menerima hasilnya. Dengan membawa secarik kertas yang bertuliskan Nilai Ebtanas Murni (NEM), Wahyupun kembali memasuki kelasnya dengan perasaan yang lesu. Sesampainya dikelas III/13, ia duduk-duduk sembari menundukkan kepalanya. “Kenapa Yu..??”, tanya Tari secara tiba-tiba.
“Hasil ujian saya kurang memuaskan dan mungkin keluarga saya mempunyai rencana untuk memindahkan saya kedaerah”, jawab Wahyu lirih.
“Apa…”, tanya Tari tidak yakin.
“Yah, saya akan pindah ke-BANDUNG..”, jawab Wahyu kembali.
“Kamu akan pindah ke-BANDUNG, kamu ini terlalu pesimis Yu. Apa disini tidak ada sekolah lain yang cukup baik “, pinta Tari memelas.
Tanpa sepengetahuan mereka, Deni-pun masuk kedalam kelas yang hanya ada Tari, Wahyu dan Lia. Rupanya wajah Deni sama seperti kesedihan wajah Wahyu.
“Saya juga mau pindah kekota BOGOR, Yu.Karena nilainya lebih jelek dari Wahyu“, jelas Deni pesimis.
“Oh, berarti kalian semua akan meninggalkan Tari, Lia dan teman-teman yang lainnyahanya karena nilai kami lebih bagus. Oh…hmm..hmmm”, tangis Tari yang tak dapat tertahan. Begitu pula Lia yang tanpa terasa air matanya telah meleleh dikedua belah pipinya.
“Mengapa kita harus berpisah semuanya, mengapa”, sesal Tari didalam hati.
Setelah selesai acara tangis-menangis, akhirnya semua kembali kerumahnya masing-masing untuk mengurusi kelanjutan sekolahnya.

Satu bulanpun tak terasa pula, kini acara pengumuman penempatan sekolahpun dilaksanakan.Semua murid nampak gembira setelah mendapatkan sekolah yang sesuai dengan kemampuan dan selera mereka.
Bagaimana dengan Wahyu Sang Ketua Kelas dan Tari Sang Primadona Kelas…???
Yah…tanpa disangka-sangka bahwa Wahyu mendapatkan sekolah favoritnya yang sama dengan Tari pada Sekolah Negeri Favorit.
Tak terasa bahwa berarti persahabatan mereka masih dikaruniai oleh SANG MAHA PENGASIH. Yah, seperti kata didalam pepatah :
“ADA PERTEMUAN, PASTI KAN ADA PERPISAHAN “.
Walaupun mereka masih bersahabat disekolahnya nanti, tetapi mereka akan tetap berpisah juga dengan teman lainnya…..

Sumber : sepenggal kisah hidupku, seperempat abad yang lalu (dibaca’ 25 thn).Dan cerita ini pernah dibuat OPERET. Serta dalam rangka menjelang Memperingati REUNI EMAS IKATAN ALUMNI SMP NEGERI 4 JAKARTA. Salam semua

BAGI TEMAN-TEMAN YANG INGIN MENGIRIMKAN CERPENNYA,SILAHKAN MENULISKANNYA DIBAWAH INI ATAU MELALUI EMAIL DIBAWAH INI.TERIMA KASIH.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. […] CERPEN […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: