Kota Yogyakarta



Kota Yogyakarta

Motto: Mangayu Hayuning Bawono
Jawa: Cita-cita untuk menyempurnakan masyarakat

K ota ini pernah menjadi ibu kota Indonesia pada masa revolusi. Selain itu kota ini adalah ibu kota Daerah Istimewa Yogyakarta, yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Pangeran Pakualam.

Makanan khas kota ini adalah gudeg.

Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar, karena hampir 20% penduduk produktifnya adalah pelajar dan terdapat 137 perguruan tinggi. Kota ini diwarnai dinamika pelajar dan mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Perguruan tinggi yang dimiliki oleh pemerintah adalah Universitas Negeri Yogyakarta, Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Bagian dari Yogyakarta, yaitu Kotagede, pernah menjadi pusat Kesultanan Mataram antara 1575-1640. Keraton (Istana) Sultan yang masih berfungsi dalam arti yang sesungguhnya adalah keraton Kesultanan Yogyakarta, yang merupakan pecahan dari Mataram.

Selain warisan budaya, Yogyakarta memiliki panorama alam yang indah. Hamparan sawah nan hijau menyelimuti daerah pinggiran dengan Gunung Merapi tampak sebagai latar belakangnya. Pantai-pantai yang masih alami dengan mudah ditemukan di sebelah selatan Jogja. Masyarakat di sini hidup dalam damai dan memiliki keramahan yang khas. Atmosfir seni begitu terasa di Yogyakarta. Malioboro, yang merupakan urat nadi Yogyakarta, dibanjiri barang kerajinan dari segenap penjuru. Musisi jalanan pun selalu siap menghibur pengunjung warung-warung lesehan.

Etimologi

Wilayah yang kemudian menjadi keraton dan ibukota Yogyakarta telah lama dikenal sebelum Sultan Hamengkubuwono 1 memilih tempat itu sebagai pusat pemerintahannya. Wilayah itu dikenal dalam karya sejarah tradisional (Babad) maupun dalam leluri dari mulut ke mulut. Babad Giyanti mengisahkan bahwa Sunan Amengkurat telah mendirikan dalem yang bernama Gerjiwati di wilayah itu. Kemudian oleh Paku Buwana II dinamakan Ayogya.[1]

Pusaka dan Identitas Daerah

* Tombak Kyai Wijoyo Mukti

Merupakan Pusaka Pemberian Raja Kraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X. Tombak ini dibuat pada tahun 1921 semasa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Senjata yang sering dipergunakan para prajurit ini mempunyai panjang 3 meter. Tombak dengan pamor wos wutah wengkon dengan dhapur kudhuping gambir ini, landeannya sepanjang 2,5 meter terbuat dari kayu walikun, yakni jenis kayu yang sudah lazim digunakan untuk gagang tombak dan sudah teruji kekerasan dan keliatannya.

Sebelumnya tombak ini disimpan di bangsal Pracimosono dan sebelum diserahkan terlebih dahulu dijamasi oleh KRT. Hastono Negoro, di dalem Yudonegaran. Pemberian nama Wijoyo Mukti baru dilakukan bebarapa hari menjelang upacara penyerahan ke Pemkot Yogyakarta, pada peringatan hari ulang tahun ke-53 Pemerintah kota Yogyakarta tanggal 7 Juni 2000. Upacara penyerahan dilakukan di halaman Balaikota dan pusaka ini dikawal khusus oleh prajurit Kraton ”Bregodo Prajurit Mantrijero”.

Tombak Kyai Wijoyo Mukti melambangkan kondisi Wijoyo Wijayanti. Artinya, kemenangan sejati di masa depan, dimana seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan kesenangan lahir bathin karena tercapainya tingkat kesejahteraan yang benar-benar merata.

Transportasi

Dalam kota

Kota Yogyakarta punya sejumlah jalur bus yang dioperasikan oleh koperasi masing-masing ( antara lain Aspada, Kobutri, Kopata, Koperasi Pemuda Sleman, Puskopkar ) yang melayani rute-rute tertentu :

* Jalur 2
* Jalur 3
* Jalur 4
* Jalur 5
* Jalur 6
* Jalur 7
* Jalur 8
* Jalur 9
* Jalur 10
* Jalur 11
* Jalur 12
* Jalur 15
* Jalur 16
* Jalur 17
* Jalur 19

Di luar jalur-jalur bus kota ini, sejak bulan maret 2008, sistem transportasi bus yang baru, bernama Transjogja.

Luar kota

Transportasi ke Yogyakarta dapat menggunakan kereta api dari Jakarta, Bandung atau Surabaya, pemberangkatan dan kedatangan kereta api (KA) kelas eksekutif dan bisnis dilayani Stasiun Yogyakarta, juga dikenal sebagai Stasiun Tugu sedangkan KA kelas ekonomi dilayani di Stasiun Lempuyangan. Ada pula kereta api komuter cepat dengan Surakarta yang bernama Pramek. bis yang hampir tersedia dari semua kota di Pulau Jawa, datang dan berangkat dari Terminal Giwangan. Yogyakarta juga mempunyai Bandar Udara Adi Sutjipto yang melayani penerbang domestik maupun internasional.

Walikota Yogyakarta

1. M. Enoch, Mei 1947 – Juli 1947.
2. Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo, Juli 1947 – Januari 1966.
3. Soedjono A. Y., Januari 1966 – November 1975.
4. H. Ahmad, November 1975 – Mei 1981.
5. Soegiarto, 1981-1986.
6. Djatmiko D, 1981(?)/6-1991.
7&8. R. Widagdo, 1991-2001.
9. Herry Zudianto, 2001-2006.
10. Herry Zudianto, 2006-2011 (sedang menjabat).


*Sumber : WIKIPEDIA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: